Bagaimana kita membalas kejahatan orang lain pada kita?, biasanya kita akan membalas dengan cara yang lebih lagi untuk menunjukkan superioritas atau minimal membalas dengan yang setimpal.
Dalam segala urusan tentu kita sepantasnya meneladani Rasulullah, sang utusan pembawa risalah dan diakui sebagai pemimpin No 1 didunia. Rasulullah pernah dilempari orang-orang kampung hingga berdarah-darah, beliau tidak membalas dengan yang bersifat menyakiti orang lain. Beliau justru menghalangi malaikat yang sudah siap menimpakan bukit besar ke kaum yang menyakitiNya, Rasulullah bahkan mendoakan kaum itu. Diwaktu lain Rasulullah juga pernah menjenguk orang non muslim yang sakit walaupun orang tersebut sering meludahinya. Sampai ahir hayatnya Rasulullah setiap hari menyuapi pengemis buta yang sering mengumpat dan memfitnah beliau.
Sebagai umatnya kita berupaya sekuat tenaga untuk meneladani Rasulullah, memang sulit untuk seperti beliau tapi paling tidak kita berusaha mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang.
Dalam segala urusan tentu kita sepantasnya meneladani Rasulullah, sang utusan pembawa risalah dan diakui sebagai pemimpin No 1 didunia. Rasulullah pernah dilempari orang-orang kampung hingga berdarah-darah, beliau tidak membalas dengan yang bersifat menyakiti orang lain. Beliau justru menghalangi malaikat yang sudah siap menimpakan bukit besar ke kaum yang menyakitiNya, Rasulullah bahkan mendoakan kaum itu. Diwaktu lain Rasulullah juga pernah menjenguk orang non muslim yang sakit walaupun orang tersebut sering meludahinya. Sampai ahir hayatnya Rasulullah setiap hari menyuapi pengemis buta yang sering mengumpat dan memfitnah beliau.
Setelah Rasulullah Wafat sahabat Rasulullah, Abu Bakar r.a., bertanya pada putri Rasulullah SAW, Siti Aisyah r.a. “Anakku.. adakah sunnah Baginda Rasulullah yang belum aku
laksanakan?
“Wahai ayahanda, Ayah adalah ahli sunnah yang selalu
mengerjakan setiap sunnah Rasulullah kecuali satu, yaitu beliau biasa
menyuapi pengemis buta di pinggir pasar”
Abubakar pun segera melakukan
aktivitas yang biasa dilakukan Rasulullah itu semasa hidup beliau.
Betapa berkecamuk hati Abubakar, ternyata pengemis buta yang disuapi itu
justru selalu mengumpat dan mencaci maki Rasulullah.
Belum selesai rasa
kagetnya, Abu Bakar r.a lebih kaget karena sang pengemis membentak.
“Ini siapa?”
“Aku yang biasa menyuapimu tiap pagi…” kata Abu Bakar.
“Bukan, jika disuapi olehnya, tak
kesulitan tangan ini memegang dan mulut ini mudah mengunyah makanan. Dia
memotong kecil-kecil makanan dan menyuapinya dengan tangannya…” kata
pengemis.
Mengingat betapa Rasulullah selalu
penuh kelembutan walaupun terhadap orang yang mencaci dan memfitnahnya,
sambil terbata-bata Abu Bakar berkata “Memang aku bukanlah beliau. Aku
hanyalah sahabatnya. Orang mulia itu sudah meninggal dunia, ia adalah
Muhammad Rasulullah SAW”
Pengemis buta itu pun menangis, “Jadi
selama ini yang menyuapi aku dengan penuh kelembutan adalah orang yang
aku fitnah dan caci.” Dia pun menyatakan keIslamannya di hadapan Abu
Bakar r.a.
Sebagai umatnya kita berupaya sekuat tenaga untuk meneladani Rasulullah, memang sulit untuk seperti beliau tapi paling tidak kita berusaha mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar